Kicauan bocah ga jelas. Hati-hati ikutan ga jelas.

Minggu, 27 Desember 2015

Kutipan Kalimat/Quotes Novel Rindu Tere Liye (Writing Challenge #4)

Hello guys, gimana liburan? Pasti seru ya. Kalau kemana-kemana ajak gue dong, kasian nih nggak kemana-mana. #serius #butuhrefreshing



Ngomongin jalan-jalan gue langsung teringat sama kisah perjalanan panjang di novelnya Bang Tere Liye. Judulnya Rindu. Pas juga sih momennya, gue lagi rindu banget sama seseorang di sana. Hai yang di sana, cepet pulang yaa, aku rindu. Siapa aja deh yang ada di sana.

Sebenernya perjalanannya ga panjang sih, cuma perjalanan sebulan di kapal laut. Tapi tebel novelnya 544 halaman wakakak. Mungkin lo pada ada yang udah baca novelnya. Kalau udah baca alhamdulillah. Kalau belum baca, baca ya. Kalau ga punya pinjem sini boleh. Siapa tau abis pinjem-pinjeman novel bisa jodoh.

Awalnya gue kira novel best seller ini tentang sepasang kekasih. Ternyata salah. Novel ini menceritakan perjalanan menjalankan ibadah rukun islam yang kelima yaitu pergi ke tanah suci. Latar waktu yang dipakai juga menarik, yaitu tahun 1938 yang mana pada tahun tersebut Indonesia masih dalam keadaan dijajah oleh Belanda. Sedangkan latar tempatnya full di atas kapal laut yang membawa penumpang dari Indonesia (Hindia Belanda nama jaman dulunya) ke tanah suci Mekkah, Kapal Blitar Holland.

Gue bukan mau share resensi novelnya. Silakan kalian bisa langsung baca sendiri sampai habis karena itu sangat menarik. Tapi gue mau share kutipan-kutipan yang ada di novel Rindu karya Tere Liye yang menurut gue keren parah karena isinya terdapat berbagai pelajaran hidup. Harapannya kutipan-kutipan kalimat ini bisa menjadi renungan buat kita semua. Dan kalau bisa diaplikasikan di kehidupan, bukan nggak mungkin akan membuat kita lebih ikhlas dan bersyukur dengan apa yang kita jalani di kehidupan yang fana ini.

"Perjalanan kita mungkin masih jauh sekali. Tentu saja bukan perjalanan kapal ini yang kumaksud. Meski memang jarak Pelabuhan Jeddah masih berminggu-minggu. Melainkan perjalanan hidup kita. Kau masih muda. Perjalanan hidupmu boleh jadi jauh sekali, Nak. Hari demi hari, hanyalah pemberhentian kecil. Bulan demi bulan, itu pun sekadar pelabuhan sedang. Pun tahun demi tahun, mungkin itu bisa kita sebut dermaga transit besar. Tapi semua sifatnya adalah pemberhentian. Dengan segera, kapal kita berangkat kembali, menuju tujuan yang paling hakiki." Hal 284.

"Maka jangan pernah merusak diri sendiri. Kita boleh jadi benci atas kehidupan ini. Boleh kecewa. Boleh marah. Tapi ingatlah nasihat lama, tidak pernah ada pelaut yang merusak kapalnya sendiri. Akan dia rawat kapalnya, hingga dia bisa tiba di pelabuhan terakhir. Maka, jangan rusak kapal kehidupan milik kau, Ambo, hingga dia tiba di dermaga terakhirnya." Hal 284.

"Sungguh, kalau kau berusaha lari dari kenyataan itu, kau hanya menyulitkan diri sendiri. Ketahuilah, semakin keras kau berusaha lari, maka semakin kuat cengkeramannya. Semakin kencang kau berteriak melawan, maka semakin kencang pula gemanya memantul, memantul, dan memantul lagi memenuhi kepala." Hal.312.

"Cara terbaik menghadapi masa lalu adalah dengan dihadapi. Berdiri gagah. Mulailah dengan damai menerima masa lalumu. Buat apa dilawan? Dilupakan? Itu sudah menjadi bagian hidup kita. Peluk semua kisah itu. Berikan dia tempat terbaik dalam hidupmu. Itulah cara terbaik mengatasinya. Dengan kau menerimanya, perlahan-lahan, dia akan memudar sendiri. Disiram oleh waktu, dipoles dengan kenangan yang lebih bahagia." Hal.312.

"Tentang penilaian orang lain, tentang cemas diketahui orang lain siapa kau sebenarnya. Maka ketahuilah, Nak, saat kita tertawa, hanya kitalah yang tahu persis apakah tawa itu bahagia atau tidak. Boleh jadi, kita sedang tertawa dalam seluruh kesedihan. Orang lain hanya melihat wajah. Saat kita menangis pun sama, hanya kita yang tahu apakah tangisan itu sedih atau tidak. Boleh jadi kita sedang menangis dalam seluruh kebahagiaan. Orang lain hanya melihat luar. Maka, tidak relevan penilaian orang lain." Hal 313.

"Kita tidak perlu membuktikan kepada siapapun bahwa kita itu baik. Buat apa? Sama sekali tidak perlu. Jangan merepotkan diri sendiri dengan penilaian orang lain. Karena toh, kalaupun orang lain menganggap kita demikian, pada akhirnya tetap kita sendiri yang tahu persis apakah kita memang sebaik itu." Hal 313.

"Kita sebenarnya sedang membenci diri sendiri saat membenci orang lain. Ketika ada orang jahat, membuat kerusakan di muka bumi, misalnya, apakah Allah langsung mengirimkan petir untuk menyambar orang itu? Nyatanya tidak. Bahkan dalam beberapa kasus, orang-orang itu diberikan begitu banyak kemudahan, jalan hidupnya terbuka lebar. Kenapa Allah tidak langsung menghukumnya? Kenapa Allah menangguhkannya? Itu hak mutlak Allah. Karena keadilan Allah selalu mengambil bentuk terbaiknya, yang kita tidak selalu paham." Hal.373.

"Ada orang-orang yang kita benci. Ada pula orang-orang yang kita sukai. Hilir-mudik datang dalam kehidupan kita. Tapi apakah kita berhak membenci orang lain? Sedangkan Allah sendiri tidak mengirimkan petir segera? Kenapa kita harus benci? Kenapa? Padahal kita bisa saja mengatur hati kita, bilang saya tidak akan membencinya. Toh itu hati kita sendiri. Kita berkuasa penuh mengatur-aturnya. Kenapa ktia tetap memutuskan membenci? Karena boleh jadi, saat kita membenci orang lain, kita sebenarnya sedang membenci diri sendiri." Hal.373.

"Lahir dan mati adalah takdir Allah. Kita tidak mampu mengetahuinya. Pun tiada kekuatan bisa menebaknya. Kita tidak bisa memilih orang tua, tanggal, tempat....tidak bisa. Itu hak mutlak Allah. Kita tidak bisa menunda, maupun memajukannya walau sedetik. Kenapa Mbah Putri harus meninggal di kapal ini? Allah yang tahu alasannya. Dan ketika kita tidak tahu, tidak mengerti alasannya, bukan berarti kita jadi membenci, tidak menyukai takdir tersebut. Amat terlarang bagi seorang muslim mendustakan takdir Allah." Hal.470.

"Allah memberikan apa yang kita butuhkan, bukan apa yang kita inginkan. Segala sesuatu yang kita anggap buruk, boleh jadi baik untuk kita. Sebaliknya, segala sesuatu yang kita anggap baik, boleh jadi amat buruk bagi kita." Hal.470.

"Mulailah menerima dengan lapang hati. Karena kita mau menerima atau menolaknya, dia tetap terjadi. Takdir tidak pernah bertanya apa perasaan kita, apakah kita bahagia, apakah kita tidak suka. Takdir bahkan basa-basi menyapa pyn tidak. Tidak peduli. Nah, kabar baiknya, karena kita tidak bisa mengendalikannya, bukan berarti kita jadi makhluk tidak berdaya. Kita tetap bisa mengendalikan diri sendiri bagaimana menyikapinya. Apakah bersedia menerimanya, atau mendustakannya." Hal.471.

"Dalam Al Quran, ditulis dengan sangat indah, minta tolonglah kepada sabar dan shalat. Bagaimana mungkin sabar bisa menolong kita? Tentu saja bisa. Dalam situasi tertentu, sabar bahkan adalah penolong paling dahsyat. Tiada terkira. Dan shalat, itu juga penolong terbaik tiada tara." Hal.472.

"Apakah arti cinta sejati itu? Maka jawabannya, dalam kasus kau ini, cinta sejati adalah melepaskan. Semakin sejati perasaan itu, maka semakin tulus kau melepaskannya. Persis seperti anak kecil yang menghanyutkan botol tertutup di lautan, dilepas dengan rasa suka cita. Aku tahu, kau akan protes, bagaimana mungkin? Kita bilang itu cinta sejati, tapi kita justru melepaskannya? Tapi inilah rumus terbalik yang tidak pernah dipahami para pencinta. Mereka tidak pernah mau mencoba memahami penjelasannya, tidak bersedia." Hal.492.

"Lepaskanlah. Maka esok lusa, jika dia adalah cinta sejatimu, dia pasti akan kembali dengan cara mengagumkan. Ada saja takdir hebat yang tercipta untuk kita. Jika dia tidak kembali, maka sederhana jadinya, itu bukan cinta sejatimu. Kisah-kisah cinta di dalam buku itu, di dongeng-dongeng cinta, atau hikayat orang itu, itu semua ada penulisnya. Tapi kisah cinta kau, siapa penulisnya? Allah. Penulisnya adalah pemilik cerita paling sempurna di muka bumi. Tidakkah sedikit saja kau mau meyakini bahwa ksiah kau pastilah yang terbaik yang dituliskan." Hal.492.

"Dengan meyakini itu, maka tidak mengapa kalau kau patah hati, tidak mengapa kalau kau kecewa, atau menangis tergugu karena harapan, keinginan memilki, tapi jangan berlebihan. Jangan merusak diri sendiri. Selalu pahami, cinta yang baik selalu mengajari kau agar menjaga diri. Tidak melanggar batas, tidak melewati kaidah agama. Karena esok lusa, ada orang yang mengaku cinta, tapi dia melakukan begitu banyak maksiat, menginjak-injak smeua peraturan dalam agama, menodai cinta itu sendiri. Cinta itu ibarat bibit tanaman. Jika ia tumbuh di tanah yang subur, disiram dengan pupuk pemahaman yang baik, dirawat dengan menjaga diri, maka tumbuhlah dia menjadi pohon yang berbuah lebat dan lezat. Tapi jika bibit itu tumbuh di tanah yang kering, disiram dengan racun maksiat, dirawat dengan niat jelek, maka tumbuhlah ia menjadi pohon meranggas, berduri, berbuah pahit." Hal.493.

"Jika harapan dan keinginan memiliki itu belum tergapai, belum terwujud, maka teruslah memperbaiki diri sendiri, sibukkan dengan belajar. Sekali kau bisa mengendalikan harapan dan keinginan memilki, maka sebesar apa pun wujud kehilangan, kau akan siap menghadapinya. Jika pun kau akhirnya tidak memilki gadis itu, besok lusa kau akan memperoleh pengganti yang lebih baik." Hal.493.

ttd
Ibni Ikhsan R

Kamis, 24 Desember 2015

Selamat Memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW 1437 H (Writing Challenge #3)

Assalamualaikum wr.wb



Hari ini. Tepat 14 abad yang lalu. Walau masih terdapat perbedaan tanggal kelahiran Rasulullah yang pasti (((googling sendiri))). Lahirlah manusia yang luar biasa. Manusia yang hampir menyentuh batas kesempurnaan.

Sang pejuang. Sang petarung. Yang telah membawa agama Allah sampai pada diri kita saat ini. Yang telah mengubah dunia yang penuh kejahiliyahan menjadi penuh penerangan. Utusan Allah yang dipercaya sebagai pembawa agama Islam yang rahmatan lil alamin.

"Dan tiadalah Kami memutus Kamu (Muhammad), melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam" (Al Anbiya ayat 107)


Selamat Memperingati Hari Kelahiran Baginda Nabi Besar Muhammad SAW. Semoga rasa cinta kita terus bertambah kepada beliau. Kita bisa terus mencontoh pribadi beliau dalam kehidupan sehari-hari. Hingga akhirnya kita bisa diberikan syafaat di hari akhir nanti dan bisa bertemu dengan beliau. sekalian minta selfie bareng

Wassalamualaikum wr.wb

#AkuCintaRasul

Selasa, 22 Desember 2015

Layanan Customer Service Call (Writing Challenge #2)

Assaamu'alaikum wr.wb

Di malam yang random ini, kerandoman gue kembali muncul. Anak UI kalau random gini nih ga jelas. *sok iye*. Ceritanya tadi siang abis selesai pameran matkul perancangan produk. Ntar kapan-kapan gue ceritain ya. *ga tau kapan*

Nah di kala kerandoman ini melanda, gue tiba-tiba resah sama mbak-mbak penerima telpon customer service. Gue bingung itu orang apa robot. Soalnya ngomongnya selalu sama. Teksnya sama. Intonasinya sama. Nadanya sama. Kayaknya mainnya dari E. Rendah gitu nadanya. Padahal dia sebut namanya beda. Kan aneh. Mulai deh imajinasi gue bermain. Jangan-jangan, layanan customer service punya keturunan khusus sendiri. Namanya keturunan customer service. Nanti di nama belakangnya selalu ada C.S. Counter Strike. *garing*. Misalnya nama orangnya Joko. Nah kalau Joko lahir di keturunan customer service bakal jadi Joko C.S, *tambah garing* *kriuk-kriuk* Jadi mereka bakal nikah sesama customer service. Anaknya pas baru lahir langsung diajarin "halo selamat siang, dengan Joko ada yang bisa dibantu?", terus dia bakal jadi customer service juga. Kalau kumpul keluarga susah deh tuh. Berisik ngobrol nadanya sama. Terus ntar anak-anaknya nikah lagi punya anak lagi. Gitu aja terus sampe utang Indonesia lunas. *maksa*

Atau, kemungkinan selanjutnya adalah ada yayasan customer care. Di yayasan ini bakal ada pendidikan khusus dari SD, SMP, SMA, bahkan pendidikan tinggi alias kuliah. Tiap hari cuma diajarin cara nerima telpon yang baik. Gurunya juga sama ngomongnya. Bahkan siswanya ga bisa bedain itu suara gurunya apa temennya. Iyalah orang nadanya sama. Bahkan satpamnya sekolahannya juga sama. Ntar kalau ada orang tua siswa yang nanya ke satpam "pak. kelas 12 udah pulang belom?". Satpamnya bakal jawab "tekan 1 untuk berbicara dengan customer service call kami."

Udah ah makin random makin ga jelas. Masih belom pulih nih tenaga akibat serangan semester 5. Jangan ikutan ga jelas ya. Nanti bakal seirng ada tulisan berbobot kok haha tenang aja.

Bye!
Ibni Ikhsan R


Libur Telah Tiba! (Writing Challenge #1)

Halo semuaaa!!!

Maafin gue yaa dua minggu kemarin sempet menghilang. UAS+tugas akhir semester lima ini cukup membantai diri gue. Mungkin, ini pelajaran bagi gue yang deadliners. Gue gak pulang-pulang dan cuma tidur sehari 1-2 jam. Dan itu pun tidurnya pas siang haha. Yaudalahya, namanya juga semester 5. Katanya, keringat mahasiswa TI semester 5 itu penuh dengan darah. *lebay*

Tapi sekarang, semua telah selesai. Yaaa. Selesaiiiiiii. Jadi, udah ga ada lagi yang namanya ke mall ngamatin parkiran. Ga ada lagi yang namanya ke restoran fast food ngintip-ngintp dapurnya. Ga ada lagi yang namanya main tamiya-tamiyaan lagi. Ga ada lagi yang namanya nganalisa kelayakan industri. Ga ada lagi yang namanya bikin layout pabrik. Ga ada lagi yang namanya ngerancang produk parfum. Itu semua udah menjadi bekal yang siap gue bawa di kehidupan nanti. Makasih semester 5!!

Selamat liburaaaan!! Sampai bertemu di semester 6!!

Ibni Ikhsan R

Kamis, 10 Desember 2015

Minggu, 22 November 2015

Self Service di SPBU Pertamina

Gue menggeser tombol di sebelah kiri stang si biru ke arah kiri. Lampu sen menyala pertanda gue telah memutuskan untuk mengisi bahan bakar untuk dia. Gue arahin si biru masuk ke halaman SPBU. Terlihat raut wajah si biru yang begitu excited ketika berada di halaman SPBU.

"Seneng ya?" Tanya gue pada dia.
"Lama banget, udah aus dari tadi." Jawabnya dengan nada datar.

Sejak beberapa kilometer tadi, si biru memang telah nampak keausan. Indikator telah berada di huruf E namun gue belum menemukan SPBU. Maafin gue ya, liat kan dari tadi emang ga ada pom bensin. Eh gue bukannya ngomong sendirian ya, si biru beneran bisa diajak ngomong kok. Coba aja kalau ga percaya besok ke partek (parkiran teknik) terus lu ajak ngobrol deh. Paling ditangkep satpam dikira mau nyolong motor.

Perjalanan yang cukup panjang di tengah teriknya matahari membuat tenaga gue cukup terkuras. Gue tergoda untuk mengisi bahan bakar untuk diri sendiri. Gue parkirin motor terlebih dahulu di depan minimarket yang berdiri kokoh di sana. Sebut aja bright. Minimarket andelan pom bensin. Gue masuk ke dalam dan seketika refleks langsung ke arah minuman dingin dan mengambilnya. Setelah transaksi dengan kasir selesai, rasa dahaga sedikit hilang, walau terasa masih ada yang bagian yang kering di tenggorokan. Terlihat si biru ngiri melihat minuman dingin segar. Kasian deh.

Gue raih kunci dari saku celana. Kemudian langsung gue arahin si biru masuk ke dalam antrian untuk diisiin bahan bakar. Antriannya cukup panjang dan lama. Bikin gue pengen modelin pake promodel nih terus gue cari optimalnya *kekesambet setan permod* *efek semester 5*. Biasa gue masuk ke antrian Premium, soalnya si biru maunya bahan bakar terbaik. Dimana-mana premium quality kan pasti yang terbaik. Mana ada pertamax quality. Premium=VIP. Udahlah ga penting. Bilang aja mau yang murah.

Namun, gue baru sadar, SPBU ini berbeda dari biasanya. Yang membuatnya berbeda adalah ga ada orangnya di tiap selang. Atau bahasa SPBU nya adalah counter. Iya, ga ada orang di setiap counternya. Cuma ada satu orang yang berdiri di depan layar. Terus gue bingung. Jangan-jangan ini SPBU hantu. Nanti hantu yang ngelayanin. Gue sejenak langsung ngebayangin betapa kerennya SPBU hantu ini. Duit gue kasih ke abang-abang yang berdiri itu, terus selang bensinnya gerak sendiri ngisi ke motor gue. Atau ternyata SPBU ini pake kekuatan tenaga dalam. Seketika itu bensin motor gue terisi penuh. Wussh, Keren!

Setelah gue perhatiin orang-orang yang ditakdirin berada di depan gue dalam antrian, gue baru sadar. Ternyata di pom bensin ini ngisi bensin sendiri. Iya beneran. Gue merasa kok cemen banget ya gue baru tau. Jadi sistemnya bayar ke abang-abang di depan, dikasih kembalian kalau duitnya ga pas, terus maju ke counter, ngambil selang dan ngisi sendiri. Karena gue di antrian yang jauh, banyak orang-orang norak di depan gue yang bikin gue ngakak. Ada yang pas ngambil selang, udah kepencet gagangnya, alhasil keluar deh tuh muncrat bensin. Ada yang ngisi bensin sampe luber. Ada yang ngomong sendiri: Dari nol ya pak. Gila dasar. Ada yang selfie. Biasa orang norak. Yang paling parah, ada yang udah ngisi, terus masuk antrian lagi cuma biar pengen ngerasain lagi. Huft. Gue jadi bingung mau ketawa apa sedih. Terus ada bapak-bapak yang kayaknya udah biasa ngisi bensin di situ, dalem hatinya bilang "IYUH". Iya pak, bapak anak gaul kuningan ya pak. Maaf pak, saya cuma tukang dagang ga tau apa-apa. Ada juga yang lagi ngebet buru-buru, mungkin udah janjian COD barang sama agan kaskus takut telat. Atau dia mau ketemuan sama pembimbingnya yang udah tertunda skripsinya. Wajahnya mendeskripsikan kekesalan yang luar biasa. Kalau boleh gue baca, dia galau mau keluar antrian apa nggak ya. Duh, makanya ya pak/mas, beli pertamax dong biar ga ngantri.

Akhirnya gue nyobain rasanya ngisi bensin sendiri. Ga mau ngerasa rugi udah ngabisin waktu lama di antrian, gue ngisinya sok-sok dilama-lamain wkwkwk. Jadi pelan-pelan. Sukurin. Pas gue nengok ke belakang gue. Buset mukanya udah ijo kayak hulk. Gue sok tenang aja dalem hati, ah inimah shrek. Pantesan aja antriannya lama dan panjang, orang buat mainan gini.

Dan itulah namanya Self-Service SPBU, ngisi bensin dengan pelayanan oleh diri sendiri. Salah satu langkah buat memangkas pekerja. Iyalah yang tadinya tiap counter satu pekerja, sekarang satu orang megang 4 counter, dan itu cuma buat bayar. Semoga ga ada yang norak lagi ya kalau ketemu pom bensin kayak gitu.





Bye, Ibni.


Maafin aku mah

Setelah selesai melihat lokasi, maka aku memutuskan untuk ikut ke rumah temanku, Jefri. Jefri adalah temanku waktu SMP. Teman biasa aja ya, ga ada yang lebih. Sumpah deh ga boong. Gue normal kok. Kami baru aja mengunjungi tanah milik temanku yang dititipkan kepadaku untuk dijual.

Sore itu, matahari yang dalam perjalanannya menuju tempat terbenam ke persembunyian semunya masih cukup percaya diri untuk menampakkan senyumannya sehingga langit sangat cerah. Awan yang sedang berkumpul ria dengan teman-temannya berhasil membuat suhu lingkungan pas. Ditambah lagi, tiupan angin yang cukup dermawan menyebabkan sore itu menjadi sore yang sempurna. “Aku harus sekuat tenaga menjual tanah itu supaya aku dapat uang banyak.” Ujarku dalam hati kecilku. Wuusshh. Aku yang baru aja dijanjikan akan mendapat bagian yang begitu besar jika tanah itu terjual melalui aku, langsung aku mengkhayal bahwa tanah itu sudah terjual lewatku dan aku mendadak jadi milyarder. Banyak banget gan. Jangan minta duit ya.

Setelah menghabiskan waktu di jalan sambil menikmati sore yang indah, kami tiba di rumah Jefri. Di sana, aku cuma berniat main fifa untuk sekedar me-refresh diriku karena hari itu adalah hari Sabtu. Namun, azan yang sudah memanggil membuat kami bergegas untuk menunaikan rukun Islam yang kedua itu.

*…..*

“Ah pantesan aja stiknya ga enak. Curang lu.” Ucapku tak menerima kekalahan dari Jefri.
“Orang kalah mah selalu gitu, ada aja alesannya.” Jefri membalas dengan percaya diri.
“Kalau berani tukeran stick deh, gue pake yang itu, lu yang ini. Berani gak?” Nadaku mengeras.
 “Siapa takut, jagoan mah pake yang mana aja juga menang.” Balas Jefri.

Ketika layar TV sedang muncul tampilan formasi. Aku masih ingat betul aku sedang mengganti Benteke dengan Sturridge. Yeeah, you’re right maan. I’m Kopites and Liverpudlian. #YNWA. Iya gue suka banget Liverpool dari kecil. Cita-cita gue mau S2 di Liverpool biar bisa ke stadion Anfield. Dan lo baru sadar udah ngabisin waktu ga jelas buat tulisan ga penting barusan.
Oke lanjut.

Pas lagi formasi, tiba-tiba hp gue bunyi. Ting Nong. Hp ku mengeluarkan bunyi khas dari salah satu chat messenger yang lagi hits belakangan ini.

“Akhirnya ada yang ngechat gue.” Aku kaget karena biasanya hp ku sepi-sepi aja. *Curhat*
Ternyata Cuma pesan dari Pakde ku yang mengirimkan hanya sticker. What…cuma sticker. Aku lupa sticker apa tepatnya. Padahal sih aku berharap ada bidadari yang lagi salah ngirim chat gitu. Huft. Akhirnya aku hanya baca aja tidak menjawabnya.

Lima menit kemudian, jam menunjukkan pukul 6.15, hp ku bergetar. Ada telpon masuk dari Pakde. Sejenak aku letakkan stick yang sedang kugenggam erat. Aku raih hp ku. Aku touch tombol hijau di hp ku yang kemudian aku geser. Pertanda aku menjawab telpon dari Pakde ku.

“Ican dimana?” Pakdeku langsung bertanya dengan suara serius.
“Di rumah temen, kenapa Pakde?” Tiba-tiba muncul firasat buruk.
“Di daerah mana?” Tanyanya lagi.
“Pisangan, Pakde.” Jawabku singkat
“Pisangan deket kan. Ican ditunggu mama di Persahabatan.” Pakdeku mencoba mengabarkan bahwa mama ku sedang berada di rumah sakit, rumah sakit Persahabatan.
“Mama? Kenapa Mama? Ditunggu ngapain?” Aku tersontak kaget.
“Mama tadi jatoh. Sekarang ada di sini. Tapi gapapa, kalau mau ican kesini pelan-pelan ya naik motornya.”

Seketika tubuhku seperti tidak bertulang. Lemas. Badanku terasa sangat berat. Tulangku tak cukup kuat menopang berat tubuhku sendiri. Dunia seperti berhenti berputar. Kalau tidak apa-apa ga mungkin ada di rumah sakit.

Hp aku letakkan. Teringat sore tadi mamaku meminta aku untuk menemaninya ke pasar. Mamaku setiap hari ke pasar untuk berbelanja bahan-bahan untuk disulapnya menjadi hidangan yang sangat mantap untuk berjualan di pagi hari. Weekeng memang merupakan kebiasaanku untuk menemainya ke pasar karena di hari-hari biasa aku sibuk dengan urusan kuliahku. Namun, saat itu aku menolak dengan alasan ada janji sama teman karena suatu hal yang menurutku penting. Gila. Aku telah memilih menomorduakan mamaku demi kepentingan pribadiku. Kenapa can?? Kenapa??!!!
Aku bergegas ke RS. Persahabatan bersama Jefri. Di perjalanan rasa ga karuan terus membayangiku. Sampai di sana, Pakdeku sedang menungguku di depan pintu.

“Mana mamah?” Teriakku pada Pakde
“Udah pulang dianterin sama yang nabrak.” Pakdeku menjelaskan dengan cukup padat.

*kronologi*

Mamaku yang sedang pulang naik ojek dari pasar ditabrak oleh mobil yang berjalan cukup cepat di sisi sebelah kanan. Motor ojek yang ditumpangi mamaku jatuh ke arah kiri. Mamaku yang duduknya menyamping ke arah kiri, otomatis langsung jatuh dengan posisi wajah yang menghadap ke aspal langsung. Seketika darah bercucuran dari wajahnya. Hampir seluruh wajahnya berdarah. Beberapa giginya patah. Sayuran yang digantungkan di motor ojek pun berserakan tak menentu di aspal jalan. Kaki kiri abang ojek tertimpa motornya sendiri yang jatuh ke arah kiri.

…….

Air mataku menetes. Satu persatu jatuh menyentuh hidung hingga membasahi pipi. Tak kuasa aku menahan pedih. Aku membayangi wajahnya yang begitu cantik menatapku dengan kasih sayang yang aku sia-siakan begitu aja. Aku mau memukul diriku. Aku marah pada diriku sendiri. Air mataku semakin deras mengalir.
Sampai di rumah. Aku peluk mamaku yang penuh luka dan darah di wajahnya. Bengkak di dahi, hidung, pipi, dan bibir. Semakin tak berdaya diri ini. Semakin merasa bahwa aku adalah penyebab dari kejadian yang tidak diinginkan ini. Aku meminta maaf kepada mamaku. Aku menyesal sedemikian hebatnya. Mamaku diam tak menjawab. Dalam hatiku, “Andai tadi gue anterin dulu.” Tapi sayang, tidak ada kata ‘seandainya’ di dunia ini.

Sejak kejadian itu, aku bertekad untuk selalu menomorsatukan orang tuaku. Jangan pernah untuk menomorduakannya dengan alasan apapun. Aku berharap tidak akan ada teman-temanku yang merasakan hal yang serupa. Semoga bisa diambil hikmahnya dari kejadian ini.


Ketika aku menulis tulisan ini, laptopku kejatuhan air mata yang tak kuasa keluar dari mataku. Telah berjalan dua minggu sejak kejadian itu. Mamaku masih belum bisa berjualan karena masih dalam tahap penyembuhan. Dan hari ini, tepat tanggal 16 November 2015, mamaku berulang tahun yang ke-45. Izinkan aku mengucapkan selamat ulang tahun kepada mamaku tercinta. Selamat ulang tahun ya, mah. Barokah dan sehat selalu. Semoga semua hajatnya disampaikan sama Allah. Semoga semakin sabar menghadapi anak-anaknya. Semoga anak-anaknya bisa menjadi orang sukses di kemudian hari sehingga bisa membanggakan mama sama bapak. Maafin aku yaaaah. Cepet sembuh yaaa maaaahhh. Aamiin.

Minggu, 15 November 2015

Waktu Istirahat Sekolah Pada Ngapain Sih?

Kriiiingggg...

"Yahhh bel." Ucap anak-anak muna yang sok nyesel kalau bel istirahat bunyi. Padahal, dari tadi mereka gerutu lama banget bel pelajaran.

"Oke, kita akhiri sampai di sini, silakan halaman 242 no 1-312 buat PR. Sampai ketemu lagi." Ucap si Killer.

Si Killer adalah sebutan untuk guru yang hobinya membunuh. Membunuh keceriaan anak-anak dengan PR nya. Si Killer ini termasuk guru yang banyak di doain sama muridnya. Didoain sakit biar ga masuk -_- Sayang sekali si Killer ga bisa membunuh kenangan mantan. Andai ada yang bisa membunuh kenangan mantan, pasti saya sukain. Duh ngapain masa suka sama guru sih, kan udah tua. Ehhh, bukan suka ituuu. Suka apa dong? Ya suka aja jadi bisa membunuh kenangan mantan yang menyelimuti diri ini. Dan terus lo baru sadar udah membuang waktu buat baca tulisan ga jelas.

Oke lanjut.

Waktu istirahat merupakan waktu yang krusial. Karena di waktu ini lah berbagai orang percaya dan yakin apa yang dilakukannya adalah yang terbaik demi dirinya sendiri dan kemahslahatan orang banyak. Berikut macem-macem cara orang untuk menghabiskan waktu istirahatnya.

1. Makan di Kantin
Ini yang paling mainstream. Beli jajan di kantin dan makannya di kantin. Biasanya isinya anak-anak hits yang ekstrovert. Mereka cenderung lebih senang keramaian dan yakin bahwa di keramaianlah otak mereka bisa di-refresh.

2. Jajan di Kantin, Makan di Kelas
Kalau ini yang biasanya pengen jajan tapi nggak suka keramaian. Jadi terpaksa ke kantin buat beli jajan abis itu langsung bawa jajanannya buat dimakan di kelas. Biasanya sih juga ada maksud lain kenapa dibawa ke kelas. Salah satunya karena PR nya belum selesai. Jadi sambil ngerjain di kelas. Sukurin.

3. Bawa Bekel dari Rumah
Tujuannya bsia beda-beda. Ada yang karena uang jajan tinggal Rp27.538 padahal masih ada 20 hari lagi di depan jadi harus irit. Ada yang emang percaya bahwa makanan dari rumah adalah makanan yang paling sehat sedunia dan akhirat. Ada yang takut ke kantin. Biasanya yang takut ke kantin karena dulu pernah atau bahkan sering ke kantin, tapi mungkin karena punya pengalaman yang buruk di kantin jadi takut ke kantin. Ya misalnya ada cewek yang lagi ke kantin tiba-tiba digodain cowok-cowok. Atau... waktu dia ke kantin tiba-tiba kejatuhan cicak. *garing*. Ada juga yang alesannya karena kelasnya berada di lantai 4 dan kantinnya di bawah. Mager. Makan ager.

4. Ngerjain PR
Buat yang belum ngerjain PR, biasanya memanfaatkan waktu istirahat ini buat nyelesaiin PR nya. Mereka lebih milih kelaperan dari pada PR nya ga selesai.

5. Ke Mesjid
Yang ke mesjid jarang, masih bisa diitung jari. Paling anak-anak rohisnya doang. Tapi ada kondisi pengecualian mesjid rame, yaitu saat kelas 12 mau ujian nasional dan emang karena mesjidnya asyik. Nah sekolah gue dulu waktu SMA memenuhi syarat itu, jadinya mesjid sekolah waktu istirahat selalu rame. Bayangin aja, AC nya aja ada 15. Padahal mesjidnya kecil. Bisa kebayang adem nya kayak apa. Jadi, dulu banyak temen gue (termasuk gue) yang kalau istirahat ke mesjid.

6. Ke Perpus
Tujuannya juga bisa beda-beda. Ada yang emang literally baca buku atau minjem buku. Ini buat si rajin yang biasanya kacamata nya minus 19. Ada juga yang ngeprint. (Karena di sekolah gue tukang print ada di perpus). Ada yang pacaran di perpus. Pacaran sama buku kali. Ada yang internetan. (karena internet di sekolah gue paling kenceng di perpus). Ada yang numpang tidur. Macem-macem deh.

7. Ke Ruang BK
Buat anak-anak badung yang selama pelajaran ngelanggar dapet poin kesalahan, dan harus ngurus ke BK. Tapi ga tertutup buat anak badung doang. Kalau menjelang kelas 12 mau lulus, ruang BK sering rame buat konsultasi jurusan. Ini biasanya dilakuin sama orang-orang yang ngebet kuliah. Yang bikin statusnya tiap hari "pengen cepet2 lulus, mau kuliah." Halah, ntar baru deh rasain lo. Gimana rasanya udah kuliah mau cepet kawin aja rasanya. Inget ya nak, nikah dulu baru kawin.

Segitu dulu ya, semoga kalau sempet bisa gue lanjutin lagi. Selamat beraktivitas di akhir pekan dengan tugas-tugasmu nak!

Ibni, mahasiswa semester 5, yang lagi ga tau mau ngerjain tugas yang mana dulu, saking banyaknya.

Kamis, 12 November 2015

Rabu, 11 November 2015

Tipe Guru di Sekolah

Bismillah

Oke fans, kali ini gue akan mengajak kalian bernostalgia dengan masa sekolah. Wahai kalian yang masih sekolah, nikmatilah apa yang dirasakan saat ini, sebelum menduduki dunia kampus. Bukan ayam kampus ya. Sesungguhnya dunia kampus mempunyai tingkat kekejaman sebesar (2x-y)^2xlog(4x+sinx). Ribet kan tuh. Jadi, jangan sok-sokan bilang gue mau cepet-cepet kuliah. Ntar nyesel. Inget, penyesalan itu selalu di belakang, kalo di depan mah supir. *lupain*

Nah, karena gue sekarang jadi guru, nostalgia pertama gue akan mencoba mengklasifikasikan jenis-jenis spesies guru yang ada di sekolah. Nanti ada waktunya gue ceritain jenis spesies dosen ya. Karena guru dan dosen berbeda. Kalau dosen ini salah satunya http://cerita-icanbunbun.blogspot.co.id/2015/11/dosen-kuno-bego.html Untuk guru, iya, jadi gue bakal identifikasi doi berasal dari famili apa genus apa ordo apa wakak. Langsung aja check this out!



TIPE GURU DI SEKOLAH MENURUT GUE

Si Rajin
Si rajin ini adalah sebutan buat guru yang nggak males. Iyalah! Nenek-nenek lagi push up juga tau! *garing*. Lanjut. Si rajin ini ngerasa bahwa datang sebelum bel dibunyikan adalah sebuah kewajiban mutlak, fardhu ain. Jadi, doi bakal udah duduk manis duluan di kelas sebelum muridnya dateng semua. Hampir ga ada yang namanya kata telat di kamus doi. Wuihh. Atau… emang doi yang nggak punya kamus haha. Tapi gue yakin di balik itu semua, si rajin ini punya alesan yang beda-beda pastinya.
Menurut pengamatan sederhana gue waktu dulu sih yang pertama karena emang doi idealis. Orang yang kayak gini sangat susah di pengaruhi lingkungan. Prinsip dirinya lebih kuat dari lem powerglue!! Haha. Alesan yang kedua bisa terjadi karena doi butuh duit. Jadi doi nggak mau telat karena takut gajinya dipotong wakakak. Maaf ya pak bu. Jangan marah. Semoga bapak dan ibu guru nggak baca. Kalau baca dan kesel, silakan tinggalin tulisan ini sekarang juga *peace*. Tapi, tenang aja pak bu. Guru bertipe kayak gini biasanya banyak yang doain kok. Doain sakit atau kenapa-napa biar ga masuk. Canda hehe.
Tipe yang kayak gini juga rajin dalam bikin soal ujian. Doi bakal rela ngabisin waktunya buat bikin soal sendiri dengan tingkat kesulitan yang hmm…. Sulit diungkapkan dengan kata-kata. Tipe ini biasanya ditakutin sama sebagian murid. Iya, murid yang rajin juga. Nah, kalau populasi guru kayak gini ga terlalu banyak, ya sekitar 2,4-5,8% dari total populasi guru di sekolah.


Si Gabut
Tipe ini kebalikannya si rajin. Ini tipe guru yang disukain sama sebagian murid. Iya, tapi murid yang ga niat belajar. Kebanyakan spesiesnya adalah wanita atau ibu-ibu. (maaf bu) tapi emang bener kok. Ciri utamanya adalah jarang ngajar. Padahal pas pagi-pagi atau pas lagi istirahat kita liat doi di sekolah. Tapi, pas giliran jam pelajarannya, doi ga ngajar. Kan hebat. Atau, doi masuk kelas tapi di telat. Pas jam pelajaran tinggal 5 menit 45 detik lagi, baru deh menampakkan batang hidungnya di kelas.  Atau ada juga yang dateng dari awal, tapi di kelas kerjaannya nerima telpon dan ngobrol lama di telpon. Mungkin doi sibuk. Atau emang pura-pura ada telpon aja biar dikira sibuk terus ada alesan ga ngajar. Atau emang udah bikin skenario sama temennya suruh telpon dia.
“Jon, nanti aku ada ngajar jam 10, nah tolong telpon aku jam 10.15 yaaa.”
“Oke buut.”
Yaaa kurang lebih kayak gitu lah skenario yang dibuat *gubraaak*

Ada juga yang dateng dari awal ke kelas. Peralatan yang dibawa: laptop. Nah ngajarnya pake PPT. Eh bukan ngajar sih, cuma bacain slide di PPT. *banyak kan guru gitu huft*. Duh ibu, tolong ya, nenek-nenek ubanan warna ungu juga bisa baca, ga perlu dibacain juga.
Si gabut ini guru yang keliatannya paling ga ada beban, padahal emang ga ada beban. Ketika guru-guru lain sibuk meriksa tugas atau PR, nah si gabut ini malah dandan. Iyalah orang ga pernah ngasih PR.

Keistimewaannya, kalau pas ujian, si gabut ini keren. Ketika guru-guru lain pada sibuk bikin soal, nah si gabut ga bikin apa-apa. Ternyata soal ujiannya pasti sama setiap tahun. Buset. Nah kerjaannya murid kalau mau ujian pelajaran yang diajar sama si gabut ini adalah menjilat kakak kelas, biar dikasih soal tahun lalu. *bilang aja modus* 


(bersambung) 

Minggu, 08 November 2015

Mulai Sekarang




MULAI SEKARANG KITA PUTUS!!!

Ga deng, becanda. Serius banget kayak lagi simak UI.

Bosen ah sama tulisan serius. Jangan serius-serius ya, ntar jadian. Ga deng. Jangan serius-serius deh mendingan, emangnya UTS. Jadi, setelah ini gue mau nulis yang ga serius-serius amat, serius bmat aja (pasti ga ngerti). Keresahan-keresahan yang gue rasain dimanapun gue berada bakal gue tulis disini, termasuk keresahan yang pernah gue lalui dulu-dulu. Gue mau mengambil patahan memori yang mengandung keresahan-keresahan itu. Bye all!

SELAMAT MEMBACA!!!!
wahai makhluk halus yang setia membaca blog ga jelas ini.

Sabtu, 07 November 2015

Solusi Untuk Indonesiaku, Versi Keegoisanku

Assalamualaikum wr. wb

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah, Sang Maha Pembolak-balik Hati, yang sampai detik ini masih memberikan bertrilyun nikmatnya kepada kita, yang dengan kalkulator tercanggih mutakhir masa kini terbarukan inovatif dan sebagainya, niscaya kita tidak akan dapat menghitungnya.

Sholawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah SAW beserta para sahabat, keluarganya, dan pengikutya hingga akhir jaman.

Kali ini aku akan share pikiran egoisku yang secara tiba-tiba memberontak keluar tanpa bisa aku jaga lagi. Jadi, suatu hari, aku mendapat pertanyaan sebagai berikut:

Melihat kondisi Indonesia pada saat ini, apa solusi yang bisa kamu tawarkan untuk kemajuan Indonesia?




Langung aku jawab dengan jawaban sebagai berikut.

Yaudah kalo Indonesia mau maju, ya gampang, caranya tinggal melangkah ke depan dan jangan mundur. Dengan begitu kau akan maju deh. GA DENG. hehehehe

Kondisi Indonesia saat ini bisa aku analogikan seperti benang kusut. Hampir semua aspek telah berantakan dan saling berkaitan satu sama lain. Semua orang tau, jika ada benang kusut dan ada orang yang ingin membetulkan benang tersebut akan terasa cukup sulit. Apabila benang tersebut ditarik satu di satu bagian, kemungkinan justru akan mengakibatkan terbentuknya bagian lain yang lebih rumit. Hal ini akan berlangsung terus-menerus sehingga belum ada jalan keluarnya. Benang kusut tersebut mungkin akan bisa lurus kembali jika proses pembetulannya dilakukan oleh orang yang sabar, telaten, teliti, fokus. Tapi tentunya dibutuhkan waktu yang sangat lama.

Nah solusi dari aku yang cukup ekstrim ialah membuang benang kusut tersebut dan membeli benang baru. Ini berarti saya menawarkan untuk membumihanguskan Indoensia, kemudian mendirikan ulang negara ini.

Kurang lebihnya mohon maaf Indonesia. Serem yak *kabur* *tarik selimut*

Sekian dan terima kasih
Wabillahi taufiq walhidayah
Wassalamualaikum wr. wb

Popular Posts

Diberdayakan oleh Blogger.

About Me

Foto saya
Bocah (bau kencur) yang punya impian menjadi imam terbaik buat istri dan anak-anaknya. Bocah (penuh dosa) yang ingin ilmunya bermanfaat dengan menjadi seorang guru. Bocah (labil) yang (alhamdulillah) sudah berpenghasilan sendiri. Bocah (lugu) yang haus akan impian dan cita-cita!

Yang Kepo

Pengikut